BAHASA SARANA BERFIKIR ILMIAH

Posted: 5 Juli 2009 in Uncategorized

Bahasa memegang peranan penting dan suatu hal yang lazim dalam hidup dan kehidupan manusia. Kelaziman tersebut membuat manusia jarang memperhatikan bahasa dan menanggapinya sebagai suatu hal yang biasa, seperti bernafas dan berjalan. Padahal bahasa mempunyai pengaruh-pengaruh yang luar biasa dan termasuk yang membedakan manusia dari ciptaan lainnya. Hal ini senada dengan apa yang diutarakan oleh Ernest Cassirer, sebagaimana yang dikutip oleh Jujun dan Amsal Bachtiar, bahwa keunikan manusia bukanlah terletak pada kemampuannya berfikir melainkan terletak pada kemampuannya berbahasa. Oleh karena itu, Ernest menyebut manusia sebagai Animal Symbolycum, yaitu makhluk yang mempergunakan simbol. Secara generik istilah ini mempunyai cakupan yang lebih luas dari istilah homo sapiens, sebab dalam kegiatan berfikir manusia mempergunakan simbol.
Bahasa sebagai sarana komunikasi antar manusia, tanpa bahasa tiada komunikasi. Tanpa komunikasi apakah manusia dapat bersosialisasi, dan apakah manusia layak disebut sebagai makhluk sosial? Sebagai sarana komunikasi maka segala yang berkaitan dengan komunikasi tidak terlepas dari bahasa, seperti berfikir sistematis dalam menggapai ilmu dan pengetahuan. Dengan kata lain, tanpa mempunyai kemampuan berbahasa, seseorang tidak dapat melakukan kegiatan berfikir sebagai secara sistematis dan teratur. Dengan kemampuan kebahasaan akan terbentang luas cakrawala berfikir seseorang dan tiada batas dunia baginya. Hal ini sesuai dengan pernyataan Wittgenstein yang menyatakan: “batas bahasaku adalah batas duniaku”. Banyak ahli bahasa telah memberikan uraiannya tentang pengertian bahasa. Sudah barang tentu setiap ahli berbeda-beda cara menyampaikannya. Bloch and Trager mengatakan, sebagaimana yang dikutip oleh Amsal Bachtiar, bahwa “a language is a system of arbitrary vocal symbols by means of which a social group cooperates” (bahasa adalah suatu system simbol-simbol bunyi yang arbitrer yang dipergunakan oleh suatu kelompok sosial sebagai alat untuk berkomunikasi).
Senada dengan definisi diatas, Joseph Broam mengatakan sebagaimana yang dikutip oleh Amsal Bachtiar, bahwa a language is a structured system of arbitrary vocal symbols by means of which members of social group interact (Bahasa adalah suatu system yang berstruktur dari simbol-simbol bunyi arbitrer yang dipergunakan oleh para anggota sesuatu kelompok social sebagai alat bergaul satu sama lain). B. Unsur Bahasa Batasan-batasan diatas memerlukan sedikit penjelasan agar tidak terjadi salah paham. Oleh karena itu, perlu diteliti setiap unsur yang terdapat di dalamnya: 1. Simbol-simbol Simbol-simbol berarti things stand for other things atau sesuatu yang menyatakan sesuatu yang lain. Hubungan antara simbol dan “sesuatu” yang dilambangkannya itu tidak merupakan sesuatu yang terjadi dengan sendirinya atau sesuatu yang bersifat alamiah, seperti yang terdapat antara awan hitam dan turunnya hujan, ataupun antara tingginya panas badan dan kemungkinannya terjadi infeksi. Jika dikatakan bahwa bahasa adalah suatu system simbol-simbol, hal tersebut mengandung makna bahwa ucapan si pembicara dihubungkan secara simbolis dengan objek-objek ataupun kejadian dalam dunia praktis. 2. Simbol-simbol Vokal Simbol-simbol yang membangun ujaran manusia yaitu bunyi-bunyi yang urutan- urutan bunyinya dihasilkan dari kerja sama berbagai organ atau alat tubuh dengan system pernapasan. Untuk memenuhi maksudnya, bunyi-bunyi tersebut haruslah didengar oleh orang lain dan harus diartikulasikan sedemikian rupa untuk memudahkan si pendengar untuk merasakannya secara jelas dan berbeda dari lainnya. 3. Simbol-simbol vokal arbitrer Istilah arbitrer di sini bermakna “mana suka” dan tidak perlu ada hubungan yang valid secara filosofis antara ucapan lisan dan arti yang dikandungnya. Hal ini akan lebih jelas bagi orang yang mengetahui lebih dari satu bahasa. Misalnya, untuk mengatakan jenis binatang yang disebut Equus Caballus, orang Inggris menyebutnya horse, orang Perancis chevel, orang Indonesia kuda, dan orang Arab hison. Semua kata ini sama tepatnya, sama arbitrernya. Semuanya adalah konvensi social yakni sejenis persetujuan yang tidak diucapkan atau kesepakatan secara diam-diam antara sesama anggota masyarakat yang memberi setiap kata makna tertentu. 4. Suatu system yang berstruktur dari simbol-simbol yang arbitrer. Walaupun hubungan antara bunyi dan arti ternyata bebas dari setiap suara hati nurani, logika atau psikologi, namun kerja sama antara bunyi-bunyi itu sendiri, di dalam bahasa tertentu, ditandai oleh sejumlah konsistensi, ketetapan intern. Misalnya saja, setiap bahasa beroperasi dengan sejumlah bunyi dasar yang terbatas (dan ciri-ciri fonetik lainnya seperti tekanan kata dan intonasi). 5. Yang dipergunakan oleh para anggota sesuatu kelompok sosial sebagai alat bergaul satu sama lain. Bagian ini menyatakan hubungan antara bahasa dan masyarakat. Para ahli social menaruh perhatian pada tingkah laku manusia, sejauh tingkah laku tersebut mempengaruhi atau dipengaruhi manusia lainnya. Mereka memandang tingkah laku social sebagai tindakan atau aksi yang ditujukan terhadap yang lainnya. Fungsi bahasa memang sangat penting dalam dunia manusia. Dengan bahasa para anggota masyarakat dapat mengadakan interaksi social. Telaah pola-pola interaksi ini merupakan bagian dari ilmu sosiologi. C. Fungsi Bahasa Bahasa pada hakikatnya mempunyai dua fungsi utama, yakni, pertama, sebagai sarana komunikasi antar manusia dan, kedua, sebagai sarana budaya yang mempersatukan kelompok manusia yang mempergunakan bahasa tersebut. Fungsi yang pertama dapat kita sebutkan sebagai fungsi komunikatif dan fungsi yang kedua sebagai fungsi kohesif atau integratif. Pengembangan suatu bahasa haruslah memperhatikan kedua fungsi ini agar terjadi keseimbangan yang saling menunjang dalam pertumbuhannya. Seperti juga manusia yang mempergunakannya bahasa harus terus tumbuh dan berkembang seiring dengan pergantian zaman. Sebagai alat komunikasi pada pokoknya bahasa mencakup tiga unsur yakni, pertama, bahasa selaku alat komunikasi untuk menyampaikan pesan yang berkonotasi perasaan (emotif), kedua, berkonotasi sikap (afektif) dan, ketiga, berkonotasi pikiran (penalaran). Atau secara umum dapat dikatakan bahwa fungsi komunikasi bahasa dapat diperinci lebih lanjut menjadi fungsi emotif, afektif, dan penalaran. Perkembangan bahasa pada dasarnya adalah pertumbuhan ketiga fungsi komunikatif tersebut agar mampu mencerminkan perasaan, sikap dan pikiran suatu kelompok masyarakat yang mempergunakan bahasa tersebut. Kalau kita ambil sebagai contoh dua unsur dari kebudayaan suatu bangsa umpamnya seni dan ilmu, maka secara teoritis dapat dikatakan, bahwa kemajuan di bidang seni terkait dengan perkembangan bahasa dalam fungsi emotif dan afektif, sedangkan di bidang keilmuan terkait dengan perkembangan bahasa dalam fungsi penalaran. Tentu saja pembagian ini tidaklah bersifat kategoris yang mutlak, melainkan lebih bersifat pengkotakan yang bersifat gradasi yaitu seni juga dipengaruhi fungsi penalaran bahasa, dan sebaliknya, ilmu akan menjadi steril tanpa diperkaya perkembangan fungsi emotif dan afektif dari bahasa. Perkembangan bahasa tentu saja tidak dapat dilepaskan dari sektor sektor lain yang juga tumbuh dan berkembang. Sekiranya bahasa berkembangan terisolasikan dari perkembangan sektor-sektor lain maka bahasan mungkin bersifat tidak berfungsi dan bahkan kotra produktif. Sekiranya pada satu pihak terdapat upaya untuk lebih memasyarakatkan ilmu di kalangan masyarakat luas dan kaum muda, sedangkan kalangan ilmuwan “asyik sendiri” membentuk terminologi ilmiah yang tepat, cermat dan eksak dilihat dari kaca mata fungsi penalaran bahasa; tanpa memperdulikan apakah kata- kata baru mampu berkomunikasi dengan kalangan non-keilmuan maka tentu saja hal ini menimbulkan kesenjangan dari upaya tadi. Bahasa selalu berkembang menjadi esoterik dan asing bagi dunia di luar bidang keilmuan. D. Kontroversi dalam pemaknaan dan penggunaan istilah dalam sektor keilmuan. Sekiranya para pemikir di bidang pendidikan dengan sungguh sungguh ingin menghapus batas antara PASPAL dan SOSBUD, yang merupakan tembok Berlin antara ilmu-ilmu alam dan ilmu-ilmu sosial, maka kalangan ilmuwan yang mengadopsi kata “sains” untuk padanan kata “ilmu” secara sadar atau tidak sadar malah memperlebar jurang perbedaan ini. Di negara asalnya pun kata science mempunyai konotasi (meskipun tidak formal) dengan natural science dan technology. Dengan demikian maka adopsi kata sains ini meskipun mungkin memperkaya perbendaharaan Bahasa Indonesia namun kontraproduktif terhadap upaya meningkatkan kemampuan penalaran bangsa kita dengan menghilangkan batas antara ilmu-ilmu alam dan ilmu-ilmu sosial. Belum lagi pembentukan padanan “taat asas” untuk “konsisten” yang ditinjau dari filsafat ilmu adalah tidak benar dan sebaiknya tidak usah dilahirkan. Para pemikir di bidang filsafat ilmu sangat menyesalkan bahwa manusia sudah terlanjur mempergunakan kata “hukum” (law) dalam terminologi keilmuan yang berkonotasi moral. Pembentukan kata “taat asas” untuk padanan konsisten jatuh pada perangkap yang sama. E. Perbedaan antara knowledge dengan science. Knowledge umum diartikan dengan istilah pengetahuan, sedangkan science sering diartikan ilmu pengetahuan. Namun dalam penggunaannya mempunyai beberapa kelemahan yakni pertama adalah knowledge merupakan terminologi generik dan science adalah anggota (species) dari kelompok tersebut. Adalah kurang layak kalau pengetahuan merupakan teminologi generik dan ilmu pengetahuan merupakan anggota yang termasuk ke dalamnya. Kelemahan lain adalah kata sifat dari science yakni scientific yang sekiranya secara konsekwen kita mempergunakan untuk ilmu adalah pengetahuan ilmiah. Kedua terminologi ini akan menyesatkan dan kurang nyaman untuk dipergunakan. Kelemahan ketiga adalah tidak konsekuensinya memeprgunakan terminologi ilmu pengetahuan untuk science di mana biologi disebut ilmu hayat sedangkan fisika adalah ilmu pengetahuan alam. Alternatif kedua didasarkan kepada asumsi bahwa ilmu pengetahuan pada dasarnya adalah dua kata benda yakni ilmu dan pengetahuan. Rangkaian dua kata semacam iuni adalah lumrah dalam bahasa Indonesia seperti emas, perak atau intan berlian Dengan demikian kita tinggal menetapkan mana yang sinonim dengan science dan mana yang sinonim dengan knowledge. Dalam hal ini maka yang lebih tepat kiranya adalah penggunaan kata pengetahuan untuk knowledge dan ilmu untuk science. Dengan demikian maka social science kita terjemahkan dengan ilmu-ilmu sosial dan natural science dengan ilmu-ilmu alam dan ilmu-ilmu sosial ini termasuk humaniora (seni, filsafat, bahasa dan sebagainya) termasuk ke dalam pengetahuan yang merupakan terminologi generik. Kata sifat dari ilmu adalah ilmiah atau keilmuan; metode yang dipergunakan dalam kegiatan ilmiah (keilmuan) adalah metode ilmiah. Ahli dalam bidang keilmuan adalah ilmuan. F. Adopsi bahasa yang kurang dapat dipertanggungjawabkan.
Akhir-akhir ini, mungkin sebagai jalan keluar dari kebingungan semantik yang melanda terminologi ilmu pengetahuan, diperkenalkan kata “sains” yang dalam beberapa hal telah secara sah dipergunakan (umpamanya dalam gelar Magister Sains). Sains ini adalah terminologi yang dipinjam dari bahasa Inggris yakni science. Saya kira adopsi ini tidak perlu sebab pembentukan kata sifat dengan kata dasar sains ini adalah agak janggal dalam struktur bahasa Indonesia. Scientific, sekiranya sains adalah sinonim dengan science, adalah ke-sain-an atau saintifik(?). Scientist adalah sainswan atau sintis(sic)! Keberatan kedua adalah bahwa terminologi science dalam bahasa asalnya penggunaannya sering dikaitkan dengan natural science seperti teknik, economics, sering dikonotasikan bukan science, namun social studies, termasuk ke dalamnya social sciences lainnya. Dengan demikian maka terminologi science sering dikaitkan dengan teknologi. Hal ini, meskipun tidak disengaja dan mungkin tidak disadari, menimbulkan jurang antara ilmu-ilmu sosial dan ilmu-ilmu alam. Sederhananya adalah bahwa ilmu- ilmu kata science; atau paling tidak, preferensi utama penggunaan kata science adalah untuk ilmu-ilmu alam. G. Perbedaan Pengetahuan dan Pra Ilmiah. Di dalam filsafat ilmu perlu dibedakan antara pengetahuan ilmiah dan pengetahuan pra ilmiah. Pengetahuan ilmiah telah teruji secara lebih sitematik sedangkan pengetahuan pra ilmiah tidak memiliki sifat kajian ilmu. Pengetahuan yang diperoleh akan melalui tahapan pencarian kebenaran dengan cara membuktikan kebenaran hasil- hasil pemahaman serta dugaan-dugaan matematik. Sedangkan mengenai kebenaran hipotesa-hipotesa empirik, orang mencoba untuk mengambil keputusan dengan jalan mengadakan observasi-observasi atau eksperimen-eksperiman secara cermat. Ilmu bersifat intersubyektif. Di dalam ilmu orang perlu mengetahui apa yang dimaksudkan oleh orang lain, khususnya dalam arti orang perlu saling mengetahui apa yang dimaksudkan oleh pernyataan-pernyataan serta pemberitahuan-pemberitahuan yang dikemukakan oleh masing-masing pihak. Dugaan-dugaan yang dipunyai oleh A hendaknya dapat dikaji oleh B. Dan hsil kajian tersebut, hendaknya dapat dievaluasi baik oleh C maupun oleh A dan B. Syarat-syarat seperti ni menimbulkan harapan akan adanya peristilahan yang dirumuskan sejelas mungkin, yang dapat diterima secara umum. Cara yang paling tepat untuk menetapkan pemakaian suatu istilah ialah dengan menggunakan definisi eksplisit. Dalam definisi seperti ini ditetapkan suatu istilah atau suatu gabungan istilah dipakai dalam makna tertentu. Sekaligus dalam hal ini orang perlu membedakan dua hal. a. Stipulatif Definisi-definisi stipulatif secara khusus dipakai sebagai contoh bagi istilah- istilah ilmiah yang baru diperkenalkan. Definisi ini menetapkan pemakaian suatu istilah untuk masa depan, masing-masing mengandung usul ke arah pemakaian tersebut. Masa depan ini dapat bersifat terbatas (sebuah ceramah, tulisan, buku), tetapi mungkin juga terjadi bahwa defiisi tadi diambil alih oleh orang-orang lain dan secara demikian lambat laun dapat timbul pemakaian istilah yang seragam, yang diberlakukan. b. Deskriptif Definisi deskriptif mengacu pada istilah-istilah yang sudah lazim dipakai. Definisi ini bersangkutan dengan menunjukkan arti apakah yang telah dipunyai oleh sesuatu istilah atau gabungan istilah tertentu. Kamus-kamus banyak memuat definisi- definisi deskriptif; usaha merumuskan definisi-definisi deskriptif merupakan salah satu kesibukan para penyelidik ilmu bahawa. Orang-orang berusaha untuk mencari serta menemukan ukuran-ukuran yang menjadi dasar pemakaian istilah-istilah tersebut. Perbedaan yang menonjol antara definisi stipulatif dengan definisi deskriptif ialah, dalam hal yang ke dua dapat dipertanyakkan benar tidaknya definisi yang bersangkutan, sedangkan dalam hal yang pertama tidak demikian. Sebuah definisi deskriptif benar atau tidak benar, tergantung pada apakah definisi tadi mencatat secara tepat arti yang sedang diberikan kepadanya (pemakaian kata yang sedang berlaku). Sebaliknya, sebuah definisi stipulatif, dapat bersifat menguntungkan atau tidak menguntungkan, bersifat melingkar atau tidak melingkar, namun tidaklah meungkin menyifatkannya sebagai benar atau tidak benar. Definisi deskriptif perlu secara tegas-tegas dibedakan dengan apa yang disebut definisi-definisi hakiki. Di dalam definisi ini, orang mencoba untuk mencakup ciri-ciri hakiki hal-hal tertentu. “Terlepas dari bagaimana tepatnya arti yang diberikan kepada istilah ‘bangsa’, namun bangsa dalam arti kata yang sebenarnya ialah …..” – cara berpikir yang demikian ini secara diam-diam menunjukkan sifat “mengarah” kepada suatu definisi hakiki. Atau “Demokrasi telah tampil dalam pelbagai bentuk, namun demokrasi yang sejati barulah tampil bila ….” Juga definisi-definisi semacam ini berdalih benar, tetapi tidak ada metode-metode ilmiah yang dpat digunakan untuk menetapkan kebenarannya. Dalam hal ini orang mendasarkan diri pada daya tahu yang bersifat adi-indrawi yang tidak lagi diakui dalam ilmu. Jadi definisi-definisi hakiki (atau definisi-definisi real, sebagaimana dahulu orang lebih sukan menamakannya) tidak lagi berperanan dalam ilmu modern. Sebaliknya, dalam sejumlah filsafat, definsi-definisi tadi masih tetap dipakai. Definisi stipulatif dan definisi deskriptif terdiri dari (1) sebuah istilah yang ditetapkan (ditentukan atau ditunjukkan) artinya yaitu apa yang disebut definiendum; (2) perumusan yang diberikan, yaitu apa yang dinamakan definiens; (3) juga sejumlah kata penghubung di antara kedua hal tadi (yang dimaksudkan dengan ….ialah …. Atau kata- kata semacam itu). Sebuah definisi hanya akan membantu kita selanjutnya, bila tidak terdapat kesalahpahaman mengenai arti yang dikandung oleh kata-kata yang tercantum dalam definiens, baik karena sebelumnya sudah didefinisikan, maupun karena tanpa didefinisikan arti yang dikandungnya memang sudah jelas. Agar mendapatkan pemahaman yang baik mengenai pembentukan pengertian ilmiah, kiranya perlu diingat bahwa kedua corak definisi yang pokok tersebut sama sekali tidak selamanya terjadi dalam bentuk yang murni. Sejak semula mungkin sudah tidak jelas, apakah maksud penyusunan definisi memberikan laporan mengenai pemakaian kata yang sudah ada, ataukah tidak demikian halnya. Tetapi yang lebih penting secara mendasar ialah, ada sekelompok besar serta teramat penting, hasil penentuan pengertian yang mempersatukan unsur-unsur definisi stipulatif dengan unsur-unsur definisi deskriptif. Inilah apa yang dinamakan eksplikasi pengertian atau secara singkat desebut eksplikasi-eksplikasi. c. Definisi Operasional Definisi-definisi operasional pertama kalimnya mengalami perkembangan pesat dalam ilmu-ilmu dalam yang eksak. Kebutuhan akan ukuran-ukuran yang dapat ditangani secara intersubyektif, menyebabkan definisi-definisi ini untuk pertama kalinya berhasil baik dalam ilmu-ilmu tersebut. Sifat apakah yang dipunyai oleh ukuran-ukuran ini, masih dapat tergantung pada macam pengertian yang bersangkutan. Dalam hal pengertian- pengertian klasifikasi, haruslah diperoleh jawaban yang memberikan kepastian atas pertanyaan apakah suatu benda tertentu memenuhi atau tidak memenuhi pengertian yang bersangkutan. Apakah benda ini terbuat dari perak? Apakah benda ini bersifat magnetik? Sesungguhnya pertanyaan-pertanyaan semacam ini mendasari klasifikasi-klasifikasi, baik misalnya, didasarkan atas unsur yang menyusun benda (perak, emas, tembaga, timah, besi, dsb.), maupun didasarkan atas ciri-ciri tertentu yang dipunyai oleh benda (magnetik atau tidak magnetik, dapat larut atau tidak dapat larut, dan sebagainya). H. Karakteristik Bahasa Ilmiah Untuk dpat berfikir ilmiah, seseorang selayaknya menguasai kriteria maupun langkah-langkah dalam kegiatan ilmiah. Dengan menguasai hal tersebut tujun yang akan digapai akan terwujud. Di samping menguasai langkah-langkah tentunya kegiatan ini dibantu oleh sarana berupa bahasa, logika matematika, dan statistika. Berbicara masalah sarana ilmiah, ada dua hal yang harus diperhatikan, yaitu pertama, sarana ilmiah itu merupakan ilmu dalam pengertian bahwa ia merupakan kumpulan pengetahuan yang didapatkan berdasarkan metode ilmiah, seperti menggunakan pola berfikir induktif dan deduktif dlam mendapatkan pengetahuan. Kedua, tujuan mempelajari sarana ilmiah adalah agar dapat melakukan penelaahan ilmiah secara baik. Dengan demikian, jika hal tersebut dikaitkan dengan berfikir ilmiah, sarana ilmiah merupakan alat bagi cabang-cabang penetahuan untuk mengembangkan materi pengetahuan berdasarkan metode ilmiah. Sarana berfikir ini juga mempunyai metode tersendiri yang berbeda dengan metode ilmiah dlam mendapatkan pengetahuan. Ini disebabkan sarana ini adalah alat bantu proses metode ilmiah dan bukan merupakan ilu itu sendiri. Bahasa sabagai alat komunikasi verbal yang digunakan dalam proses berfikir ilmiah di mana bahasa merupakan alat berfikir dan alat komunikasi untuk menyampaikan jlan pikiran tersebut pada orang lain, baik pikiran yang berlandaskan logika induktif maupun deduktif. Dengan kata lain, kegiatan berfikir ilmiah ini sangat berkaitan erat dengan bahasa. Menggunakan bahasa yang baik dalam berfikir belum tentu mendapatkan kesimpulan yang benar apalagi dengan bahasa yang tidak baik dan benar. Premis yang salah akan menghasilkan kesimpulan yang salah juga. Semua itu tidak terlepas dari fungsi bahasa itu sendiri sebagai sarana berfikir. Ketika bahasa disifatkan dengan ilmiah, fungsinya untuk komunikasi disifatkan dengan ilmiah juga, yakni komunikasi ilmiah. Komunikasi ilmiah ini merupakan proses penyampaian informasi berupa pengetahuan. Untuk mencapai komunikasi ilmiah, maka bahasa yang digunakan harus terbebas dari unsur emotif. Disamping itu bahasa ilmiah juga harus bersifat reproduktif, dengan arti jika si pengirim komunikasi menyampaikan suatu informasi berupa “X” misalnya, si pendengar juga harus menerima “X” juga. Hal ini dimaksudkan untuk tidak terjadi kesalahan informasi, di mana suatu informasi berbeda maka proses berfikirnya juga akan berbeda. I. Kesimpulan Dengan terjadinya hal-hal di atas, dewasa ini orang tidak lagi sering mempertanyakan serta menanggapi masalah kesatuan ilmu dalam hubungannya dengan suatu bahasa kesatuan. Namun yang masih tetap hangat dibicarakan ialah, masalah kesatuan hakiki dalam hal tujuan serta metode. Pendirian yang menyetujui kesatuan ilmu dengan demikian dapat dipertahankan, antara lain dengan mengacu kepada kecenderungan umum ke arah usaha menciptakan khasanah kata-kata yang cermat, dapat diandalkan, dan bermakna-tunggal.

Daftar Pustaka

Bakhtiar, Amsal, Filsafat Ilmu, Jakarta: PT. Rajagrafindo, Persada, 2007
Suriasumantri, Jujun S., Filsafat Ilmu Sebuah Pengantar Populer, cet. XIII, Jakarta: Sinar
Harapan, 1984.
Rasjidi, M, Persoalan-Persoalan Filsafat, Jakarta: Bulan Bintang, 1984.
Beerling, et al, Pengantar Filsafat Ilmu, Terjemahan Soejono Soemargono, cet. III, Yogya:
PT. Tiara Wacana, 1990

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s