Bung Karno wafat karena memang sengaja dibunuh Part.2

Posted: 3 Juli 2009 in Uncategorized

Dibunuh karena berhaluan kiri

Baik sekali kita ingat bahwa Bung Karno telah dikhianati oleh besar-pembesar militer (bersama-sama tokoh-tokoh sipil dari berbagi kalangan) dan akhirnya dibunuh degan cara menterlantarkannya ketika sudah sakit keras, adalah karena sikap politik Bung Karno yang kiri, atau yang revolusioner, dan anti imperialisme (terutama AS). Bung Karno adalah seorang nasionalis kiri sejak ia masih muda sekitar 25 tahun. Bolehlah dikatakan bahwa sepanjang kehidupannya yang lama dalam memimpin perjuangan rakyat Indonesia menuju kemerdekaan (dan juga sesudah mencapai kemerdekaan) Bung Karno selalu dipersenjatai dengan pandangan kiri atau revolusioner.

Haluan kiri atau orientasi revolusionernya ini tercermin dalam seluruh karya-karyanya, yang secara menonjol dimulainya tahun 1926 (Tulisan “Nasionalisme, Islamisme dan Marxisme) sampai ketika menjabat sebagai Presiden dan Pemimpin Besar Revolusi. Justru, yang membikin Bung Karno bisa menjadi pemimpin besar rakyat Indonesia selama perjuangan merebut kemerdekaan dan juga sesudah menjabat presiden itu adalah fikiran-fikirannya yang kiri dan revolusioner, baik ditingkat nasional maupun internasional (Ingat sekali lagi, antara lain : konferensi Bandung, Indonesia keluar dari PBB, “Go to hell with your aid”, “Dibawah Bendera Revolusi”, ‘Revolusi belum selesai” dll dll)

Jadi, dibunuhnya Bung Karno oleh Suharto dkk adalah disebabkan karena ia berhaluan kiri atau revolusioner, dan karena ia mendapat simpati besar dari berbagai kalangan masyarakat yang mendukung konsepsi-nya, yaitu NASAKOM.. Dalam rangka ini jugalah Bung Karno mendapat dukungan yang besar dan kuat dari PKI. Karena fikiran-fikiran kiri Bung Karno sejak muda sampai menjadi Presiden pada garis besarnya adalah searah atau sejiwa dengan politik yang dianut PKI. Dan karena itu pulalah Bung Karno juga menaruh simpati yang besar kepada PKI. Hal ini telah berkali-kali dinyatakannya secara terbuka dan secara terus terang.
Inilah yang sama sekali tidak disenangi atau tidak bisa diterima oleh pimpinan militer (dan sebagian kecil dari berbagai tokoh sipil) yang mempunyai pandangan politik yang searah dengan imperialisme AS, dan berusaha sejak lama – dan berkali-kali – menghilangkan Sukarno dari pimpinan negara. Karena itu, peristiwa G30S telah memberi kesempatan bagi mereka untuk melaksanakan rencana mereka sejak lama, antara lain dengan menuduh Sukarno terlibat G30S, sehingga disebut-sebut sebagai “Gestapu Agung” dan sebagainya. Dengan berbagai dalih terlibatnya PKI maupun Bung Karno dalam peristiwa G30S, maka pimpinan militer telah menggunakan segala cara (termasuk yang paling kejam dan biadab) untuk menghancurkan PKI terlebih dulu, sebelum menghilangkan kedudukan Bung Karno sebagai kepala negara dan pemimpin bangsa.

Menolak membubarkan PKI

Keteguhan atau konsistensi Bung Karno dalam memegang kesetiaan pada prinsip-prinsip kiri atau revolusionernya, tercermin dalam kegigihannya dalam mempertahankan prinsip NASAKOM sampai jabatannya diakhiri oleh rekayasa MPRS (gadungan) dalam tahun 1967 dan bahkan sampai akhir hayatnya, dalam status sebagai tapol.. Jadi, wafatnya Bung Karno, yang hakekatnya adalah akibat pembunuhan oleh klik militer , adalah juga berlatar-belakang karena kedekatannya atau searah politiknya dengan politik PKI. Karena itu, walaupun Bung Karno berkali-kali mendapat tekanan yang kuat atau desakan yang besar dari pimpinan militer untuk membubarkan PKI, ia menolaknya.

Penolakan Bung Karno untuk membubarkan PKI itulah salah satu di antara sebab-sebab utama mengapa Suharto memutuskan untuk menjebloskan Bung Karno dalam tahanan rumah (artinya, sebagai tapol) dan kemudian membunuhnya dengan cara-cara seperti yang diceritakan di atas.
Di situ pulalah kelihatan kebesaran Bung Karno, yang dengan gigih dan teguh tetap setia kepada dasar fikirannya sejak muda, untuk menggalang persatuan seluruh bangsa Indonesia melalui konsepsinya yang besar dan bersejarah sejak lama , yaitu NASAKOM. Sampai wafatnya, Bung Karno tetap setia kepada NASAKOM-nya. karena ia tidak mau mengkhianati salah satu di antara sokogurunya, yaitu golongan komunis.

Itulah sebabnya, maka dalam memperingati atau mengenang kembali wafatnya Bung Karno seyogianya kita semua juga ingat dan merenungkan dalam-dalam segala persoalan yang berkaitan dengan peristiwa besar ini. Kita perlu dan patut menjadikan wafatnya Bung Karno bukan hanya sebagai ritual untuk menghormati pemimpin rakyat yang telah berjasa besar, atau hanya dengan mendoa atau mengaji, melainkan juga sebagai kesempatan untuk mengenang kembali segala kejahatan dan dosa-dosa besar Suharto terhadap Bung Karno serta pendukung-pendukung setianya yang besar jumlahnya.

Sukarnoisme masih punya pengikut

Suara Bung Karno yang terdengar dari makamnya di Blitar, atau jiwa besar yang masih tetap memancar dari Museum Bung Karno yang berdekatan dengan makamnya, membuktikan dengan gamblang bahwa namanya masih dielu-elukan dalam hati banyak orang. Walaupun makam Bung Karno sekarang tidaklah sebesar, seindah atau semegah Astana Giribangun dimana jasad Suhato (dan istrinya ) diletakkan, tetapi gemuruh orang yang setiap hari mengunjungi makam di Blitar pasti makin lebih besar dari pada yang di Astana Giribangun.

Sejarah bangsa Indonesia tidak lama lagi akan menyaksikan (dan juga membuktikan) bahwa jiwa besar Bung Karno dengan berbagai ajaran revolusionernya akan tetap terus hidup dalam dada atau hati banyak orang dari berbagai kalangan, sedangkan sebaliknya, nama dan sosok Suharto (yang penuh dengan berbagai kejahatan) makin dilupakan. Sukarnoisme masih mempunyai pengikut dan pengagum yang tidak sedikit, tetapi, sebaliknya, orang makin tidak mengenal Suharto.

Inti jiwa Sukarnoisme, dengan ajaran-ajaran revolusionernya untuk membikin perubahan-perubahan besar dan fundamental demi kepentingan rakyat banyak, masih akan terus bisa menjadi senjata bagi orang-orang yang berjuang untuk masyarakat adil dan makmur. Inilah peninggalan besar Bung Karno yang amat berharga bagi bangsa. Sedangkan Suharto (beserta Orde Barunya) hanya meninggalkan dosa berat dan aib besar yang telah dibikinnya terhadap Bung Karno dan rakyat pendukungnya.. Dan, harta haramnya !!!

Paris, 12 Juni 2009

Catatan A. Umar Said

PS. Harap baca juga persoalan tentang wafatnya Bung Karno dalam bahan-bahan berikut :
http://jackoagun.multiply.com/reviews/item/6http://kapasmerah.wordpress.com/2008/01/22/kartono-muhammad-bung-karno-ditelantarkan/ ).

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s